Loading...

Link & Aplikasi

    

KKN Nusantara 2025 di Kulon Progo: Mahasiswa Wujudkan Ekoteologi dan Toleransi

Blog Single

Kulon Progo – Semangat kebinekaan dan kepedulian lingkungan menjadi ruh utama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara 2025 yang digelar di Padukuhan Semak, Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengusung tema “Merawat Ekoteologi, Membangun Negeri”, program ini melibatkan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) seluruh Indonesia.

Dalam semangat toleransi dan keberagaman, mahasiswa Kelompok 17 menggelar silaturahmi ke Gereja Katolik Santa Theresia Lisieux Boro. Rombongan disambut langsung oleh Romo Laurentius Andhika Bhayangkara Pr., dan berdiskusi mengenai pelestarian lingkungan serta peran lintas agama dalam menjaga harmoni sosial.

Kolaborasi Ekologis dan Partisipatif
Sejumlah program kerja KKN di Padukuhan Semak dirancang dengan pendekatan kolaboratif, mulai dari edukasi lingkungan, penanaman pohon, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan nilai toleransi. Salah satu program unggulan adalah Digital Branding dan Marketing Pertenunan Santa Maria Boro, pabrik tenun antik yang berdiri sejak 1938 di kompleks Gereja Santa Theresia Lisieux.

Pabrik yang didirikan oleh misionaris Katolik asal Austria, Romo JB Prenthaller, ini memproduksi kain tenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), tetap mempertahankan nilai tradisi sejak awal berdiri. Saat ini, pemasaran produk tenun hanya aktif melalui WhatsApp, dengan pembeli mayoritas dari kalangan internal umat Katolik.

Melihat potensi besar, Muhammad Aufa Faiz, mahasiswa UIN Sunan Kudus yang tergabung dalam Kelompok 17 KKN Nusantara, menggagas pelatihan digital branding dan pemasaran melalui media sosial dan e-commerce. “Program ini tidak berhenti setelah KKN selesai. Kami ingin memberikan dampak jangka panjang agar pendapatan pabrik meningkat,” ujarnya.

Dukungan Dosen Pembimbing dan Dampak Nyata
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Internal UIN Sunan Kudus, Aat Hidayat, M.Pd.I., mendukung penuh program ini. “Program-program yang dilaksanakan harus memberi dampak langsung bagi masyarakat. Ilmu yang didapat di bangku kuliah harus diamalkan melalui pengabdian seperti ini,” ujarnya saat monitoring pada 29 Juli 2025.

Selain program digitalisasi pertenunan, mahasiswa KKN Nusantara lainnya juga menjalankan beragam kegiatan pengabdian berbasis ekoteologi. Di antaranya, Muhamad Miftah Farid mendampingi anak-anak SD dalam kegiatan ecoprint, Sofia Amanda Jelita melatih ibu-ibu PKK membuat jamu, Dewi Qodrun Nada mengedukasi pemilahan sampah, dan Luluk Evi Rina mengadakan pelatihan pemulasaraan jenazah.

Rektor UIN Sunan Kudus, Prof Abdurrohman Kasdi saat melakukan monitoring menekankan pentingnya KKN Nusantara ini sebagai pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. KKN Nusantara mengajarkan tentang moderasi dan toleransi antara mahasiswa dan masyarakat yang berbeda. Baginya, hidup membaur pada masyarakat bukan hanya tentang kebersamaan, melainkan juga memahami makna kemanusiaan secara nyata. KKN Nusantara ini juga menjadi bagian dari komitmen UIN Sunan Kudus untuk penguatan visi besar Kementerian Agama melalui Astraprotas Kemenag yang selaras dengan Astacita Pemerintah Indonesia 2024–2029.

“Belajarlah dengan sungguh-sungguh, karena di lokasi KKN kalian akan belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Meskipun berbeda budaya, ini akan menjadi pengalaman penting dan menjadi jawaban atas pertanyaan: apakah kita mampu menjadi agen perubahan dan memberi dampak bagi masyarakat. Dengan demikian, program ini tidak hanya menempatkan mahasiswa sebagai pelaksana KKN biasa, melainkan sebagai agen transformasi sosial yang diharapkan menjadi perekat kebangsaan dan penggerak perubahan,” demikian pesannya.

Melalui berbagai program ini, KKN Nusantara 2025 tidak hanya menjadi sarana pengabdian mahasiswa, tetapi juga perwujudan ekoteologi inklusif dan transformatif yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, budaya, dan spiritual untuk keberlanjutan masyarakat.

Share this Post:

Galeri Photo