Prof. Ali Ramdhani Tekankan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi sebagai Fondasi Peradaban Beragama yang Berkelanjutan
Kementerian Agama RI terus menguatkan komitmennya dalam membangun kehidupan beragama yang moderat, damai, sekaligus berwawasan lingkungan. Hal tersebut kembali ditekankan oleh Prof. Dr. H. Ali Ramdhani, MT. Kepala BMBPSDM (Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). dalam penyampaian materi bertajuk Konsep Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi, pada forum Pelatihan Pengembangan Wawasan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi yang diselenggarakan di Hotel Safin Pati (26/11/2025) dan diikuti para dosen, mahasiswa, dan pemangku kebijakan.
Dalam paparannya, Prof. Ali Ramdani menggarisbawahi bahwa pembangunan kehidupan beragama yang harmonis hanya dapat terwujud apabila kementerian, lembaga pendidikan, dan masyarakat memiliki arah yang jelas, konsisten, dan berorientasi pada kemaslahatan. Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama harus berdampak nyata, dengan mengelola tiga aspek penting yang ia sebut sebagai 3H—Heart, Head, dan Hand. Ketiga dimensi ini harus seimbang: hati yang lembut, akal yang cerdas, dan tangan yang berkarya. Menurutnya, pola konsentrasi dalam bekerja itu baik, namun harus selalu disertai dengan kontemplasi agar menghasilkan sistem kehidupan yang cerdas secara kognitif dan afektif.

Menghadirkan Umat Beragama yang Semakin Dekat dengan Ajarannya
Prof. Ali Ramdani menegaskan bahwa tujuan mendasar dari seluruh program Kementerian Agama adalah agar setiap umat beragama dapat semakin dekat dengan agamanya. “Kita tidak boleh berhenti pada konsep. Kedekatan itu harus diterjemahkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Implementasi nilai-nilai agama harus tampak dalam perilaku, etika, dan cara manusia memperlakukan sesama maupun lingkungannya.
Dalam konteks tersebut, Prof. Ali menyebutkan adanya Asta Protas, yaitu delapan program prioritas Kementerian Agama yang menjadi arah kebijakan nasional. Salah satu yang paling penting adalah pengembangan kurikulum berbasis cinta, yang diharapkan mampu menumbuhkan karakter kasih sayang, empati, dan kepekaan sosial sejak dini.
Merekonstruksi Makna Cinta yang Sering Disalahgunakan
Namun, Prof. Ali secara tegas mengingatkan bahwa cinta juga dapat menjadi berbahaya apabila tidak diarahkan dengan benar. “Cinta dapat membuat seseorang melakukan tindakan paling mulia, tetapi juga dapat mengantarkan kepada tindakan paling gelap,” jelasnya. Ia mencontohkan perilaku destruktif akibat cinta terhadap benda, harta, atau status yang akhirnya membuat seseorang menjadi gila dan kehilangan kendali.
Dalam ceritanya, ia menyinggung peristiwa tragis di Soreang, Bandung, di mana seorang ibu melakukan tindakan menyimpang karena tekanan ekonomi dan cintanya kepada keluarga. Karena terlilit utang dan sering didatangi debt collector, ia mengalami tekanan psikis berat. Dalam kondisi terdistorsi, ia justru mengakhiri hidup anaknya dengan keyakinan keliru bahwa ia sedang mengantarkan sang anak menuju surga. “Hidup seperti lilin, menerangi orang lain namun merusak diri sendiri,” ungkap Prof. Ali, menggambarkan kondisi manusia yang salah memaknai cinta.
Dari tragedi ini, ia menekankan perlunya rekonstruksi makna cinta sebagai energi kehidupan yang menggerakkan denyut kalbu. Ia mengutip perkataan Sayyidina Ali: “Jika engkau ingin membersihkan tubuhmu, gunakanlah air; jika engkau ingin membersihkan hatimu, gunakanlah cinta.”
Moderasi Beragama: Mendidik Tanpa Menghardik
Dalam sesi selanjutnya, Prof. Ali menjelaskan bahwa moderasi beragama bukanlah konsep baru, namun sebuah pendekatan yang menampilkan wajah agama yang edukatif, ramah, dan humanis. Moderasi beragama mengajarkan agar manusia tidak bersikap ekstrem, tetapi menunjukkan kearifan dalam menyikapi perbedaan dan konflik sosial.
Ia menggambarkan filosofi moderasi beragama melalui analogi air. “Hiduplah seperti air. Air selalu menempati tempat yang lebih rendah, namun justru dari sikap rendah hatinya itulah tumbuh kehidupan yang hijau di sepanjang alirannya.” Air tidak membentak, tidak menghardik, tetapi memberi kehidupan. Inilah esensi moderasi: lemah lembut namun penuh kekuatan.
Prof. Ali juga memberi nasihat agar manusia berhati-hati dalam mengambil keputusan. “Jangan pernah mengambil keputusan ketika marah. Dan hati-hati ketika bahagia—jangan cepat bernazar atau berjanji saat emosi sedang tinggi,” ujarnya.

Ekoteologi: Mencintai Alam sebagai Bagian dari Ibadah
Selain moderasi beragama, Prof. Ali menegaskan pentingnya internalisasi ekoteologi, yaitu kesadaran spiritual bahwa manusia adalah bagian dari alam dan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaganya.
Ia menggarisbawahi prinsip mensana in corpore sano—di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. “Mustahil kita bisa berfikir sehat apabila tubuh kita sakit. Tubuh adalah tempat kita menjalankan amal dan tindakan. Ketika tubuh terganggu, ibadah pun akan terganggu,” tegasnya.
Karena itu, mencintai alam bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban. Alam adalah satu-satunya tempat manusia menitipkan tubuh dan kehidupannya. “Alam mampu memenuhi kebutuhan semua makhluk, tetapi tidak akan pernah mampu memenuhi kerakusan satu orang yang tamak,” kata Prof. Ali.
Ia menambahkan bahwa kerusakan ekologis saat ini tidak lagi dapat dikendalikan semata oleh logika manusia. “Jika logika sudah tidak mampu mengendalikan ekologi, maka agama harus turun tangan,” ujarnya.
Prof. Ali juga menyinggung nilai luhur dalam berbagai agama. Dalam tradisi Hindu, pohon diperlakukan dengan sangat mulia. Dalam Islam, Rasulullah mengajarkan: ‘Jika besok terjadi kiamat, namun engkau memiliki bibit tanaman di tanganmu, maka tanamlah.’ Dua ajaran ini menunjukkan bahwa menanam, merawat alam, dan menjaga lingkungan adalah ibadah universal.
Menjadi Kader Penggerak Moderasi Beragama dan Ekoteologi
Sebagai penutup, Prof. Ali Ramdani mengajak seluruh peserta untuk menjadi kader penggerak moderasi beragama dan ekoteologi. Menurutnya, masa depan Indonesia hanya dapat dibangun oleh generasi yang kokoh spiritualitasnya, cerdas emosinya, moderat cara pandangnya, serta peduli lingkungan.
“Manusia itu unik. Mereka belajar merangkak dalam tujuh bulan, makan sendiri dalam dua tahun, dan hidup mandiri dalam lima tahun. Itu menunjukkan bahwa manusia membutuhkan proses. Maka jadilah manusia yang terus belajar dan tumbuh,” pesannya.







Indonesia
English
Arabic 


