Rektor UIN Sunan Kudus Tekankan Urgensi Wasathiyah sebagai Jalan Tengah di Tengah Ancaman Radikalisme
Dalam rangka memperkuat wawasan moderasi beragama kepada 60 Peserta dari berbagai elemen di berbagai daerah di Indonesia Rektor UIN Sunan Kudus menyampaikan Materi Wasathiyah. Peserta terdiri dari berbagai kalangan yaitu Dosen, Guru, Pengasuh Pondok Pesantren, Tenaga Kependidikan dan Pegawai Kementerian Agama dari perwakilan berbagai daerah di Indonesia seperti Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makasar, Mataram dan daerah lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan selama 7 hari tanggal 24-30 November 2025 di Hotel Safin Pati. Pada kesempatan tersebut, Rektor menegaskan bahwa konsep Wasathiyah atau jalan tengah merupakan fondasi penting untuk membangun masyarakat yang moderat, adil, dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi ekstrem yang mengarah pada radikalisme, baik dari spektrum kanan maupun kiri.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa Wasathiyah adalah prinsip keseimbangan yang menjaga seseorang untuk tetap berada pada posisi adil dan proporsional dalam menghadapi berbagai isu keagamaan maupun sosial. “Wasathiyah merupakan jalan tengah agar tidak menjadi radikal kanan dan radikal kiri. Kita perlu mengetahui faktor penyebabnya. Seorang yang moderat tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mengarahkan ke arah radikal,” tegasnya.

Faktor-Faktor Pemicu Radikalisme
Lebih lanjut, Rektor juga memaparkan bahwa radikalisme tidak muncul secara tiba-tiba. Ada beberapa faktor mendasar yang mendorong seseorang atau kelompok mengarah pada pemikiran ekstrem. Beliau menguraikan bahwa sedikitnya ada enam faktor yang sangat berpengaruh dalam membentuk sikap radikal, yaitu:
- Faktor pemikiran, yang muncul akibat pemahaman agama yang rigid, literatur tidak seimbang, atau interpretasi yang keliru.
- Faktor ekonomi, di mana kemiskinan, kesenjangan, dan ketidakstabilan finansial menjadi ruang subur bagi penyebaran ide ekstrem.
- Faktor politik, terkait kondisi pemerintahan, konflik kepentingan, serta narasi-narasi yang dimanfaatkan untuk ideologi tertentu.
- Faktor sosial, berupa dinamika relasi masyarakat, disintegrasi sosial, dan pengaruh lingkungan.
- Faktor psikologis, seperti tekanan mental, trauma, atau pencarian identitas diri.
- Faktor pendidikan, termasuk minimnya literasi keagamaan, kurangnya pengetahuan kritis, dan pendidikan yang tidak komprehensif.
“Radikalisme tidak hanya persoalan agama; ia adalah fenomena multidimensi yang perlu dipahami secara menyeluruh,” jelas Rektor.
Makna Teoritis Wasathiyah
Dalam kajian teoritisnya, Rektor menegaskan bahwa wasathiyah memiliki makna mendalam yang mencerminkan nilai-nilai universal Islam. Kata wasathiyah sendiri bermakna adil, baik, tengah-tengah, dan seimbang. Seorang yang adil akan senantiasa berusaha berada di tengah, menjaga harmoni, serta mampu menghadapi dua situasi yang berbeda tanpa terjebak dalam ekstremitas.
Wasathiyah bukan sekadar konsep etik, melainkan sebuah kerangka berpikir, bersikap, dan bertingkah laku yang ideal bagi umat Islam. Dengan wasathiyah, umat dapat menjadi penengah yang memberi solusi, bukan justru memicu konflik.

Ummatan Wasathan dalam Al-Qur’an
Rektor menegaskan bahwa prinsip wasathiyah telah disampaikan secara jelas dalam Al-Qur’an melalui konsep Ummatan Wasathan. Umat Islam dituntut untuk menjadi komunitas yang menampilkan sikap pertengahan—tidak keras, tidak pula terlalu pasif. Sikap pertengahan inilah yang membedakan umat Islam dari golongan atheis maupun polities (penganut politeisme), dan menjadikan mereka mampu bertindak adil serta proporsional dalam setiap kondisi.
“Umat Islam tidak menggunakan pendekatan yang terlalu ketat, tetapi mampu mengambil keputusan dengan bijaksana berdasarkan prinsip keadilan dan keseimbangan,” ungkap Rektor.
Peran Media dan Pentingnya Melawan Narasi Ekstrem
Salah satu pesan penting yang disampaikan Rektor dalam kesempatan tersebut adalah pentingnya mengimbangi wacana publik dengan konten dan narasi yang moderat. Menurutnya, ruang media yang dibiarkan kosong hanya akan diisi oleh wacana radikal yang terus tumbuh tanpa kontrol.
“Jangan terlalu banyak diam. Kalau kita banyak diam, maka mereka banyak yang akan muncul. Tulisan yang banyak muncul di media adalah tulisan yang selalu banyak ditulis. Apabila banyak tulisan yang radikal, maka yang mendominasi adalah tulisan radikal,” ujar Rektor. Ia menegaskan bahwa akademisi, mahasiswa, dan masyarakat luas memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan narasi positif, menyejukkan, dan membangun harmoni.







Indonesia
English
Arabic 


