Loading...

Link & Aplikasi

    

UIN Sunan Kudus Gelar Diskusi Nasional: Ecotheology dan Moderasi Beragama sebagai Fondasi Respons Krisis Iklim

Blog Single

Pati, 26 November 2025 — Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus kembali menegaskan komitmennya terhadap penguatan moderasi beragama dan kepedulian lingkungan melalui penyelenggaraan diskusi nasional bertajuk “The Intertwine of Ecotheology and Religious Moderation”. 

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Pelatihan Pembinaan Wawasan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi yang berlangsung pada 24–30 November 2025 di Hotel Safin Pati, diikuti oleh 60 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Farid F. Saenong salah satu pembicara menjelaskan secara komprehensif tentang pentingnya ekoteologi sebagai landasan teologis dalam merespons krisis iklim global.Moderasi beragama memiliki basis yang kuat dalam Al-Qur’an. Konsep umma wasat adalah panggilan untuk bersikap adil, seimbang, dan tidak ekstrem, termasuk dalam memperlakukan alam,” tegas Farid dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai ayat Al-Qur’an, seperti QS. Al-Baqarah: 143, memberi landasan teologis untuk membangun cara pandang yang harmonis antara manusia dan lingkungan. Menurutnya, krisis ekologi masa kini tidak terlepas dari cara pandang keliru yang lahir dari paradigma antroposentrisme serta teologi maskulin yang menempatkan manusia sebagai pihak dominan.
“Manusia bukanlah penguasa, tetapi steward — penerima amanah untuk menjaga, bukan merusak,” ujarnya menegaskan.

Farid juga mengkritisi kesalahpahaman terhadap konsep taskhîr dalam Al-Qur’an. Ia menekankan bahwa penundukan alam tidak berarti eksploitasi tanpa batas, tetapi mengandung pesan tanggung jawab, keberlanjutan, dan harmoni. Ia juga menunjukkan adanya titik temu antaragama dalam isu ekologis, seperti nilai-nilai etis, spiritualitas lingkungan, hingga praktik konservasi. Menurutnya, kearifan lokal merupakan modal besar dalam memperkuat kolaborasi lintas agama.
Menutup sesinya, Farid menyerukan agar rumah ibadah menjadi pionir gerakan ekologis.
“Teologi masa depan harus lebih penuh cinta, tidak maskulin, lebih ekologis, dan selaras dengan semangat moderasi beragama,” terangnya.

Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., turut memberikan arahan dalam kegiatan tersebut. Ia menyatakan bahwa diskusi dan pelatihan ini merupakan wujud kesadaran bersama dalam merawat bumi.
“Kami mengajak seluruh peserta dari berbagai agama untuk ikut andil menjaga keseimbangan lingkungan dengan menanam pohon bersama,” terang Rektor.

Beliau menegaskan bahwa kepedulian lingkungan harus dimulai dari langkah sederhana namun konkret. Panitia telah menyiapkan berbagai jenis pohon untuk ditanam oleh peserta sebagai simbol komitmen bersama terhadap keberlanjutan ekologi.

Melalui kegiatan ini, UIN Sunan Kudus berharap tercipta sinergi antara akademisi, tokoh agama, dan masyarakat dalam mengarusutamakan ekoteologi dan moderasi beragama sebagai respons atas perubahan iklim yang semakin kompleks. Pelatihan dan diskusi nasional ini diharapkan menjadi langkah awal menuju gerakan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Share this Post: