UIN Sunan Kudus Gelar Diskusi Nasional: Bahas Sketsa Kehidupan Beragama dan Tantangan Moderasi di Era Bonus Demografi
Pati, 26 November 2025 — Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus menyelenggarakan Diskusi Nasional bertajuk “Sketsa Kehidupan Beragama di Indonesia dan Urgensi Moderasi Beragama”, yang menghadirkan Sekretaris Badan Moderasi dan Pengembangan SDM Kementerian Agama RI, Prof. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., sebagai narasumber utama. Kegiatan ini berlangsung dalam rangkaian Pelatihan Pengembangan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi yang diikuti 60 peserta dari seluruh Indonesia.
Dalam paparannya, Prof. Hamdi menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang religius dan sangat majemuk, sehingga keseimbangan antara kebebasan beragama dan komitmen kebangsaan menjadi isu krusial. “Kita bukan negara agama, tetapi masyarakat kita sangat dekat dengan kehidupan beragama. Konstitusi menjamin kebebasan beragama, namun menjaga keseimbangan antara hak beragama dan komitmen kebangsaan adalah tantangan setiap warga negara,” ujarnya dalam sesi pembukaan.
Ia juga menyampaikan data demografi berdasarkan Dirjen Dukcapil Kemendagri 2024, yang menunjukkan bahwa Indonesia dihuni 282 juta penduduk, dengan 87,08% di antaranya beragama Islam. Penjelasan ini menegaskan bahwa kehidupan beragama memengaruhi arah sosial dan kebijakan publik karena mayoritas umat bergama berada di wilayah padat seperti Pulau Jawa.
Selain itu, Prof. Hamdi menjelaskan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki era bonus demografi, di mana 69,58% penduduk berada pada usia produktif. Ia mengatakan, “Generasi milenial dan Gen Z adalah penentu arah keberagamaan kita ke depan. Mereka tech savvy, religius, modern, dan memiliki daya beli tinggi. Ini peluang sekaligus tantangan bagi moderasi beragama.”
Dalam diskusi, narasumber juga menyoroti maraknya narasi ekstremisme dan eksklusivisme di ruang publik. Ia menjelaskan bahwa sejumlah aksi demonstrasi beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya upaya kelompok tertentu untuk memanfaatkan isu keagamaan guna memperkuat gerakan politik. Ia merujuk pada sejumlah laporan riset dan media terkait aktivitas kelompok yang telah dibubarkan.
“Kita harus waspada terhadap gerakan yang memanfaatkan sentimen agama. Narasi intoleransi dan ekstremisme kini banyak beredar melalui media sosial, dan kelompok yang paling rentan adalah wanita, anak-anak, dan remaja,” jelasnya.
Berdasarkan data BNPT 2023, lanjut Prof. Hamdi, terdapat 2.670 konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di media sosial, mayoritas ditemukan pada platform Facebook dan Instagram. Ia menegaskan perlunya penguatan literasi digital dan moderasi beragama untuk menghadapi tantangan tersebut.
Melalui kegiatan ini, UIN Sunan Kudus berharap peserta mampu menginternalisasi nilai moderasi beragama dalam lingkungan kerja dan sosial masing-masing. Pihak penyelenggara menyatakan bahwa diskusi nasional ini menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem keberagamaan yang toleran, inklusif, dan responsif terhadap perubahan zaman.
Rasa bangga atas terselenggaranya Pelatihan Pengembangan Wawasan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi ini. Kegiatan ini sebagai bentuk komitmen UIN Sunan Kudus untuk menyukseskan Program Pak Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA terkait Moderasi Beragama, Ekoteologi dan Kurikulum Cinta.
"Terima kasih kepada Pak Menteri Agama, Pak Sekjen, Pak Stafsus , Pak Dirjen, Pak Kepala BPMPSDM, Pak Direktur Diktis, Kapuspenma, selaku Narasumber dan peserta yang antusias dalam menyukseskan kegiatan ini," demikian ujarnya.







Indonesia
English
Arabic 


