Spirit Kebangkitan Nasional dari Masjid Kampus: “Ilmu Itu Gedung, Kuncinya Berani Bertanya”
Suasana intelektual dan spiritual tampak hidup di Masjid UIN Sunan Kudus dalam kegiatan Pesantren Go to Campus selapanan yang menghadirkan Musyasyar PCNU Kudus, KH Aniq Nafisah. Dalam kajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, beliau dengan mengutip hadis yang ada dalam Ihya menegaskan bahwa ilmu pengetahuan ibarat sebuah gedung megah, sedangkan kuncinya adalah keberanian untuk bertanya. Tradisi bertanya menjadi tanda hidupnya kehausan intelektual sekaligus jalan pembuka lahirnya peradaban ilmu.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa, dalam tradisi keilmuan Islam, bertanya bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan ibadah yang melahirkan empat pahala sekaligus. Pertama, pahala bagi orang yang bertanya , kedua pahala bagi orang yang mengajar , ketiga pahala bagi mereka yang mendengarkan, dan keempat pahala bagi siapa saja yang mendukung terselenggaranya majelis ilmu. Dukungan itu meliputi panitia, takmir masjid, organisasi keagamaan, hingga para pengambil kebijakan yang memfasilitasi tumbuhnya ruang belajar umat.
Rektor UIN Sunan Kudus Prof. Dr. H. Abdurrahman Kasdi,Lc., M. Si. menyampaikan bahwa Program Pesantren Go to Campus merupakan bagian dari agenda Selapan yang terselenggara atas dukungan pimpinan UIN Sunan Kudus bekerja sama dengan PCNU Kudus sebagai ikhtiar meneguhkan subkultur pesantren agar tetap hidup dalam budaya akademik kampus.
“Semangat program Ta’lim Masyayikh Goes to Campus ini sejalan dengan nilai kebangkitan nasional yang harus terus tumbuh di lingkungan akademik. UIN Sunan Kudus berkomitmen menghadirkan tradisi keilmuan para masyayikh sebagai bagian dari marwah akademik kampus, sehingga lahir generasi intelektual yang religius, moderat, dan berakar pada tradisi pesantren,” ujarnya.
Ia menambahkan, Selain menghadirkan KH. Aniq Nafisah selaku Rois Syuriah PCNU Kudus, agenda selanjutnya juga akan menghadirkan Abuya M. Ulil Albab Arwani dalam kajian kitab Al Mudzakkiroh fi at-Tajwid.
Sekretaris PCNU Kudus yang juga Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kudus, Dr. Nur Said, M.A., M.Ag., menyebut kegiatan ini sebagai fenomena menarik dalam konteks kebangkitan nasional masa kini. Menurutnya, kebangkitan bangsa tidak cukup hanya ditandai dengan kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, tetapi juga harus diiringi dengan kebangkitan tradisi mengaji lintas disiplin di masjid kampus sebagaimana digelar pas 20 Mei 2026 ini. “Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban ilmu, tempat bertemunya spiritualitas, intelektualitas, dan gerakan sosial,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Ma’had Al-Jamiah UIN Sunan Kudus, Dr. Ahmadi, turut memberikan dukungan penuh terhadap penguatan budaya akademik religius tersebut. Ia berharap para mahasantri dan mahasiswa dapat memanfaatkan waktu luang di sela perkuliahan untuk mengikuti kajian-kajian keislaman yang memperkaya wawasan sekaligus memperkuat karakter spiritual.
Dalam kajian tersebut juga diungkap satu pesan mendalam dari Ihya’ Ulumuddin: siapa saja yang menuntut ilmu demi menghidupkan agama Islam, lalu ajal menjemput sebelum cita-citanya tercapai, maka kelak di surga akan ditempatkan pada derajat yang dekat dengan para nabi. Pesan ini menjadi energi moral bagi generasi muda kampus agar tidak lelah belajar, mengaji, dan menghidupkan tradisi ilmu sebagai jalan membangun peradaban yang berkeadaban.(ENES).







Indonesia
English
Arabic 


