Loading...

Link & Aplikasi

    

Bawa Nama Kudus ke Tingkat Asia, Riset Situs Suci Islam Raih Pendanaan Bergengsi MoRA The AIR Funds 2026

Blog Single

KUDUS — Tim peneliti dari UIN Sunan Kudus berhasil meraih pendanaan kompetitif MoRA The AIR Funds 2026 untuk meneliti model pengelolaan situs suci Islam di Kabupaten Kudus sebagai rujukan Sustainable Sacred Sites di kawasan Asia. Program tersebut didukung oleh LPDP dan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bagian dari penguatan riset strategis berbasis keislaman dan budaya.

Riset dipimpin oleh Dr. Mubasyaroh bersama tim peneliti Primi Rohimi dan Moh. Anwar Yasfin. Penelitian difokuskan pada pengelolaan kawasan religi Makam Sunan Muria dan Situs Masjid, Makam, serta Menara Kudus dengan menelaah keseimbangan antara nilai keimanan, budaya lokal, dan komunikasi keagamaan dalam menjaga keberlanjutan situs suci.

Pengumpulan data lapangan mulai dilakukan pada Mei 2026 melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pengelola situs religi, serta pemetaan pola komunikasi sosial-keagamaan di kawasan makam dan masjid. Wawancara dengan pengelola Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) dilaksanakan pada 7 Mei 2026, sementara wawancara dengan Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) dilakukan pada 8 Mei 2026. Tim peneliti juga menelaah dinamika pengelolaan arus peziarah, pelestarian tradisi Islam Nusantara, hingga keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem wisata religi yang berkelanjutan.

Perwakilan pengelola Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria menyambut positif kehadiran tim akademisi tersebut. Menurutnya, penelitian semacam ini penting sebagai bahan evaluasi dan pengembangan tata kelola kawasan religi di masa mendatang.

“Kami terbuka terhadap keterlibatan akademisi karena hasil penelitian dapat menjadi masukan penting bagi pengembangan pengelolaan makam Sunan Muria secara berkelanjutan,” ujar perwakilan pengelola saat ditemui di lokasi penelitian.

Dukungan serupa juga datang dari pengurus Yayasan Menara Kudus. Mereka berharap hasil riset tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan situs religi dan pelayanan bagi masyarakat maupun peziarah.

Wakil Sekretaris YM3SK, Arinal Haq, menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam memperkuat tata kelola Situs Masjid, Makam, dan Menara Kudus. Kehadiran akademisi diharapkan mampu menghadirkan rekomendasi berbasis riset yang bermanfaat bagi lembaga dan seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, Plh YM2SM, Nur Hudri, mengungkapkan bahwa pihaknya selama ini aktif menjalin koordinasi dengan berbagai kampus guna memperoleh masukan akademik terkait pengelolaan kawasan religi. Kehadiran tim MoRA The AIR Funds 2026 semakin memperkuat keterlibatan akademisi dalam mendukung pengembangan makam dan masjid Sunan Muria.

Penelitian ini dinilai penting di tengah meningkatnya tantangan pelestarian budaya, pengelolaan arus peziarah, serta perubahan pola komunikasi sosial di kawasan wisata religi. Melalui program tersebut, tim peneliti menargetkan publikasi pada jurnal internasional bereputasi Scopus sebagai upaya memperkenalkan model tata kelola religi di Kudus ke tingkat global.

Lebih jauh, riset ini diharapkan dapat memperkuat posisi Kudus bukan hanya sebagai destinasi wisata religi, tetapi juga sebagai laboratorium sosial-keagamaan yang menawarkan model pengelolaan situs suci berbasis budaya, keberlanjutan, dan harmoni sosial bagi dunia Islam internasional.

 

 

Share this Post: