Gali Tradisi Masjid Agung, Tim Periset MoRA The AIR Funds 2026 UIN Sunan Kudus Sukses Rampungkan Pengumpulan Data Domestik di Demak
DEMAK— Tim periset MoRA The AIR Funds 2026 dari UIN Sunan Kudus sukses melaksanakan pengumpulan data lapangan klaster domestik terakhir di Kabupaten Demak, Kamis (14/5). Kegiatan tersebut menjadi tahap penting dalam rangkaian riset strategis mengenai pengelolaan Sustainable Sacred Sites yang menelaah hubungan antara situs suci Islam, budaya lokal, dan komunikasi keagamaan di kawasan pesisir Jawa.
Dalam agenda penelitian kali ini, tim berfokus menggali data primer di kawasan Masjid Agung Demak beserta kompleks makam para sultan Demak. Penelitian diarahkan untuk mengkaji ketahanan budaya keagamaan Islam pesisir sekaligus memetakan pola pengelolaan wisata religi berbasis pelestarian sejarah dan tradisi Islam Nusantara.
Riset tersebut merupakan bagian dari program pendanaan kompetitif MoRA The AIR Funds 2026 yang didukung oleh LPDP dan Kementerian Agama Republik Indonesia. Program ini mendorong lahirnya riset strategis berbasis penguatan nilai keislaman, budaya, dan keberlanjutan tata kelola situs religi di tingkat internasional.
Tim peneliti yang terdiri atas Dr. Mubasyaroh, Primi Rohimi, dan Moh. Anwar Yasfin melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam, serta dokumentasi sosial-keagamaan di sejumlah titik penting kawasan religi Demak. Pengumpulan data turut melibatkan interaksi langsung dengan sejarawan lokal, abdi dalem makam, pengelola situs religi, hingga instansi pemerintah terkait.
Dari proses tersebut, tim berhasil menghimpun berbagai informasi mengenai pola pengelolaan wisata religi, strategi pelestarian warisan sejarah Islam, hingga dinamika hubungan antara masyarakat lokal dan para peziarah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Primi Rohimi, S.Sos., M.S.I., menjelaskan bahwa Demak memiliki posisi yang sangat penting dalam konstruksi teoritis penelitian karena menyimpan karakter Islam pesisir yang kuat dan historis.
“Data dari Demak menjadi bagian penting untuk melengkapi konstruksi teoritis riset domestik kami. Di sini, kami melihat bagaimana tradisi keagamaan, sejarah kerajaan Islam, dan praktik sosial masyarakat masih terhubung secara hidup dalam tata kelola situs suci,” ujarnya di sela kegiatan penelitian.
Menurutnya, penguatan ketahanan budaya keagamaan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan bangunan bersejarah, tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dan pengelola menjaga kesinambungan tradisi, narasi sejarah, serta komunikasi sosial-keagamaan di kawasan wisata religi.
Selain meneliti aspek historis dan budaya, tim juga mengamati pola mobilitas peziarah, aktivitas ekonomi masyarakat sekitar, serta strategi pengelolaan arus pengunjung di kawasan Masjid Agung Demak. Temuan-temuan tersebut dinilai penting untuk membaca tantangan keberlanjutan situs suci Islam di tengah meningkatnya arus wisata religi dan perubahan sosial masyarakat modern.
Pengumpulan data di Demak sekaligus menandai selesainya tahap riset domestik yang sebelumnya telah dilaksanakan di kawasan religi Kabupaten Kudus, termasuk Situs Makam Sunan Muria dan Menara Kudus. Selanjutnya, tim peneliti dijadwalkan memasuki fase pengembangan kajian komparatif dengan objek penelitian luar negeri sebagai bagian dari penguatan perspektif global mengenai Sustainable Sacred Sites.
Melalui riset ini, tim berharap mampu menghasilkan model tata kelola situs suci berbasis budaya, spiritualitas, dan keberlanjutan yang tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga dapat menjadi rujukan akademik bagi pengelolaan situs religi di kawasan Asia. Selain ditargetkan menembus jurnal internasional bereputasi Scopus, hasil penelitian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan wisata religi, pelestarian warisan Islam Nusantara, serta penguatan identitas budaya masyarakat pesisir Jawa.







Indonesia
English
Arabic 


