Loading...

Link & Aplikasi

    

Bahas Aktualisasi Ekoteologi dalam Tugas Akhir KKP, Prof. Abdurrohman Kasdi Lulus Diklat P3N Lemhannas RI

Blog Single

Sebuah capaian membanggakan kembali ditorehkan oleh kalangan akademisi nasional. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., resmi dinyatakan lulus dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVII Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Kelulusan tersebut sekaligus menegaskan kiprah Prof. Dur sebagai akademisi sekaligus pemimpin perguruan tinggi yang memiliki perhatian besar terhadap isu-isu strategis kebangsaan, khususnya persoalan lingkungan hidup dan perubahan iklim global melalui pendekatan ekoteologi lintas agama.

Program P3N Lemhannas RI merupakan pendidikan kader kepemimpinan strategis tingkat nasional yang dirancang untuk mempersiapkan para pemimpin bangsa agar memiliki wawasan geopolitik, ketahanan nasional, kemampuan strategis, serta kecakapan dalam membaca dinamika global. Program ini dikenal sebagai salah satu pendidikan tertinggi dan paling prestisius di Indonesia dalam bidang kepemimpinan nasional. Peserta yang mengikuti pendidikan tersebut berasal dari berbagai unsur strategis bangsa, mulai dari perwira tinggi TNI dan Polri, pejabat kementerian dan lembaga negara, pimpinan perguruan tinggi, pimpinan pertai politik, hingga pimpinan organisasi masyarakat dan tokoh nasional dari berbagai daerah di Indonesia.

Pada tahun 2026, P3N Angkatan XXVII berlangsung selama kurang lebih tiga setengah bulan, yakni sejak Februari hingga Juni 2026. Selama mengikuti pendidikan, peserta mendapatkan pembekalan intensif mengenai wawasan kebangsaan, geopolitik, geostrategi, ketahanan nasional, kepemimpinan strategis, manajemen krisis, hingga pendalaman Empat Konsensus Dasar Bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Seluruh materi tersebut diramu dalam kerangka Astagatra, sebuah konsep ketahanan nasional yang mencakup aspek geografi, demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.

Dalam pendidikan tersebut, setiap peserta diwajibkan menyusun Kertas Kerja Perorangan (KKP) sebagai tugas akhir strategis yang menjadi bentuk implementasi kemampuan analitis peserta terhadap persoalan kebangsaan. KKP bukan sekadar karya akademik biasa, melainkan sebuah naskah strategis yang memadukan perspektif akademik, kebijakan publik, serta rekomendasi implementatif yang dapat diterapkan dalam pembangunan nasional.

Mengkaji Ekoteologi: dari Konsep Spiritual Menuju Aksi Nyata

Pada kesempatan itu, Prof. Abdurrohman Kasdi mengangkat tema mengenai “Aktualisasi Ekoteologi dalam Perspektif Lintas Agama sebagai Instrumen Fundamental dalam Mengatasi Krisis Perubahan Iklim Global.” Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan global dewasa ini, ketika dunia menghadapi ancaman serius berupa perubahan iklim, kerusakan lingkungan, deforestasi, polusi, hingga meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tema ini juga sejalan dengan arah kebijakan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA yang menjadikan ekoteologi sebagai salah satu program prioritas nasional dalam Asta Protas Kementerian Agama.

Dalam paparannya di hadapan para penguji dan tutor Lemhannas RI, Prof Dur menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup sesungguhnya tidak hanya dipicu oleh faktor teknologi dan ekonomi, melainkan juga berakar pada krisis moral dan spiritual manusia modern. Menurutnya, eksploitasi alam secara berlebihan lahir dari cara pandang manusia yang memosisikan alam semata sebagai objek ekonomi, bukan sebagai bagian integral dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.

“Perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kemanusiaan, moralitas, dan peradaban. Karena itu, pendekatan penyelesaiannya harus bersifat multidimensional. Agama memiliki kekuatan moral yang sangat besar untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga bumi,” ujar Prof. Abdurrohman Kasdi dalam presentasi tugas akhirnya.

Ia menjelaskan bahwa konsep ekoteologi memandang alam sebagai bagian dari manifestasi kebesaran Tuhan yang memiliki nilai sakral. Dalam perspektif Islam, misalnya, manusia diposisikan sebagai khalifah fil ardh atau pemelihara bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Konsep tersebut diperkuat melalui Fiqhul Bi’ah atau fikih lingkungan yang menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual.

Tidak hanya dalam Islam, nilai-nilai ekologis juga ditemukan dalam berbagai tradisi agama lain. Dalam tradisi Kristen Katolik dan Protestan dikenal konsep stewardship atau tanggung jawab manusia sebagai pengelola ciptaan Tuhan. Dalam ajaran Hindu terdapat konsep Tri Hita Karana yang menekankan harmonisasi hubungan antara manusia, Tuhan dan alam. Sementara dalam ajaran Buddha dikenal prinsip Ahimsa yang mengajarkan untuk tidak merusak dan menyakiti makhluk hidup, sedangkan ajaran Khonghucu juga menekankan pentingnya harmoni dan keseimbangan dengan alam semesta.

Menurut Prof. Abdurrohman Kasdi, seluruh nilai tersebut dapat menjadi fondasi moral bersama untuk membangun gerakan ekologis lintas agama di Indonesia. Ia menilai bahwa perubahan iklim merupakan ancaman global yang tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh satu kelompok atau satu negara saja. Dibutuhkan solidaritas kemanusiaan yang dibangun melalui kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral bersama.

“Indonesia memiliki modal sosial dan modal spiritual yang sangat besar karena masyarakatnya religius dan majemuk. Jika seluruh pemuka agama, institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat bergerak bersama dalam semangat ekoteologi, maka kita memiliki kekuatan besar untuk menghadapi ancaman perubahan iklim,” ungkapnya.

Selama mengikuti pendidikan di Lemhannas RI, Prof. Abdurrohman Kasdi juga mendapatkan berbagai pembekalan mengenai ancaman nonmiliter terhadap ketahanan nasional. Salah satu ancaman yang menjadi perhatian serius ialah krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang berpotensi memicu konflik sosial, krisis pangan, krisis air, migrasi penduduk, hingga melemahnya stabilitas nasional.

Karena itu, menurutnya, isu lingkungan hidup harus dipandang sebagai bagian integral dari ketahanan nasional Indonesia. Dalam perspektif Astagatra, kerusakan lingkungan akan berdampak langsung terhadap aspek ekonomi, sosial budaya, politik, bahkan pertahanan dan keamanan negara. Oleh sebab itu, menjaga lingkungan bukan hanya tugas aktivis lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan eksistensi bangsa dan negara.

Komitmen Ekoteologi dan Kiprah Prof. Abdurrohman Kasdi

Kapasitas Prof. Abdurrohman Kasdi dalam bidang ekoteologi memang telah lama dikenal publik. Selama memimpin UIN Sunan Kudus, ia aktif mendorong berbagai program penguatan kesadaran ekologis di lingkungan perguruan tinggi. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah pengembangan pendidikan moderasi beragama berbasis ekoteologi yang melibatkan sivitas akademika dan masyarakat luas.

Melalui kerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia, UIN Sunan Kudus turut berpartisipasi dalam Program Pelatihan Pengembangan Wawasan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi. Program tersebut bertujuan membangun kesadaran bahwa keberagamaan yang moderat tidak hanya tercermin dalam hubungan antarumat manusia, tetapi juga dalam sikap terhadap lingkungan hidup.

Selain itu, berbagai program penghijauan dan konservasi lingkungan juga terus digalakkan di lingkungan kampus. Penanaman pohon produktif seperti matoa, leci, mangga, dan berbagai tanaman lain menjadi bagian dari gerakan ekologis kampus yang melibatkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat sekitar.

Menurut Prof. Abdurrohman Kasdi, penanaman pohon bukan sekadar simbolis, tetapi merupakan investasi ekologis jangka panjang. Pohon produktif dipilih karena memiliki manfaat ekonomi, sosial, sekaligus ekologis yang dapat dirasakan oleh generasi mendatang.

“Ekoteologi harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan hanya wacana akademik. Menanam pohon, mengurangi sampah plastik, menghemat energi, hingga membangun budaya ramah lingkungan adalah bentuk konkret ibadah sosial yang sangat penting,” tegasnya.

Kiprah Prof. Abdurrohman Kasdi dalam mendorong keberlanjutan ekologi dan konservasi lingkungan di Universitas Islam Negeri Sunan Kudus terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Di bawah kepemimpinannya, berbagai kebijakan dan gerakan nyata berbasis green campus berhasil diimplementasikan sebagai bagian dari transformasi kampus menuju perguruan tinggi yang berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan iklim, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan hidup.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembentukan Tim Pengembangan Kampus Berkelanjutan (TPKB) UIN Sunan Kudus yang menjadi garda terdepan dalam merancang dan mengawal program-program konservasi lingkungan di lingkungan kampus. TPKB tidak hanya berfungsi sebagai tim administratif, tetapi juga menjadi pusat koordinasi gerakan ekologis yang melibatkan seluruh unsur sivitas akademika, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga mitra masyarakat sekitar kampus.

Melalui TPKB, berbagai program strategis dijalankan secara bertahap dan terintegrasi. Salah satu program unggulan yang menjadi perhatian adalah penguatan ruang terbuka hijau dan gerakan penghijauan kampus melalui penanaman pohon produktif serta tanaman konservasi di berbagai area lingkungan UIN Sunan Kudus. Gerakan ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kampus yang sehat, teduh, dan berkelanjutan di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim global.

Prof. Abdurrohman Kasdi menegaskan bahwa keberadaan pohon dan ruang hijau di lingkungan kampus bukan sekadar elemen estetika, tetapi memiliki fungsi ekologis yang sangat penting dalam menjaga kualitas udara, mengurangi emisi karbon, meningkatkan resapan air, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan sehat. Karena itu, berbagai jenis tanaman produktif seperti matoa, mangga, leci, dan tanaman peneduh lainnya terus dikembangkan sebagai bagian dari gerakan konservasi berbasis kebermanfaatan jangka panjang.

Selain penghijauan, TPKB juga aktif mengembangkan berbagai program pengelolaan lingkungan lainnya seperti pengurangan sampah plastik sekali pakai (dengan gerakan membawa tumbler sendiri),  pemilahan sampah organik dan anorganik, efisiensi penggunaan listrik dan air, serta penguatan budaya hemat energi di lingkungan kampus. Berbagai kebijakan internal juga mulai diarahkan pada digitalisasi layanan akademik dan administrasi guna mengurangi penggunaan kertas sebagai bagian dari upaya menciptakan tata kelola kampus yang lebih ramah lingkungan.

Dalam bidang edukasi, Prof. Abdurrohman Kasdi turut mendorong penguatan literasi lingkungan dan kesadaran ekologis di kalangan sivitas akademika. Isu-isu keberlanjutan lingkungan mulai diintegrasikan dalam kegiatan akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, seminar, hingga berbagai forum diskusi ilmiah di lingkungan kampus. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan bumi dan kehidupan manusia.

Komitmen UIN Sunan Kudus terhadap isu keberlanjutan lingkungan juga diperkuat melalui partisipasi aktif dalam pemeringkatan internasional UI GreenMetric World University Rankings yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia. Pemeringkatan UI GreenMetric merupakan salah satu sistem pemeringkatan perguruan tinggi tingkat dunia yang secara khusus menilai komitmen universitas terhadap pengelolaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Keikutsertaan UIN Sunan Kudus dalam UI GreenMetric menjadi langkah strategis untuk mengukur sekaligus meningkatkan kualitas implementasi green campus di lingkungan universitas. Dalam sistem penilaiannya, UI GreenMetric mencakup berbagai indikator penting seperti tata kelola infrastruktur hijau, efisiensi energi dan perubahan iklim, pengelolaan limbah, konservasi air, transportasi ramah lingkungan, hingga pendidikan dan penelitian berbasis keberlanjutan.

Di bawah kepemimpinan Prof. Abdurrohman Kasdi, partisipasi dalam UI GreenMetric tidak hanya dimaknai sebagai upaya meningkatkan reputasi perguruan tinggi di tingkat internasional, tetapi juga menjadi instrumen evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dalam tata kelola kampus hijau. Berbagai program yang dijalankan bersama TPKB diarahkan agar selaras dengan indikator keberlanjutan global yang ditetapkan dalam pemeringkatan tersebut.

Sebagai bentuk keseriusan dalam mendukung agenda green campus, UIN Sunan Kudus juga terus memperkuat pengembangan fasilitas ramah lingkungan, peningkatan area hijau kampus, optimalisasi pengelolaan drainase dan konservasi air, serta mendorong penggunaan transportasi yang lebih efisien dan rendah emisi di lingkungan kampus. Berbagai inovasi berbasis teknologi hijau dan efisiensi sumber daya juga mulai dikembangkan untuk mendukung terciptanya kampus berkelanjutan.

Menurut Prof. Abdurrohman Kasdi, perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki posisi strategis dalam membangun paradigma pembangunan yang harmonis antara manusia, ilmu pengetahuan, dan lingkungan hidup. Karena itu, konsep ekoteologi yang selama ini ia gaungkan tidak hanya diwujudkan dalam kajian akademik, tetapi juga diimplementasikan dalam kebijakan kelembagaan dan budaya kampus sehari-hari.

Ia menilai bahwa isu lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai spiritual dan tanggung jawab moral manusia terhadap ciptaan Tuhan. Oleh sebab itu, pembangunan kampus berkelanjutan harus berjalan beriringan dengan penguatan kesadaran religius dan etika ekologis di kalangan masyarakat akademik.

Melalui kolaborasi bersama TPKB dan partisipasi aktif dalam UI GreenMetric, UIN Sunan Kudus terus berupaya memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi yang konsern dengan gerakan ekoteologi, peduli terhadap keberlanjutan lingkungan dan konservasi alam. Kiprah tersebut sekaligus menjadi bagian penting dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dan menghadapi tantangan perubahan iklim global di masa depan.

Gagasan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, yang menjadikan ekoteologi sebagai salah satu program prioritas nasional dalam Asta Protas Kementerian Agama. Menteri Agama berulang kali menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup harus menjadi perhatian bersama seluruh umat beragama karena kerusakan alam akan berdampak langsung terhadap kehidupan manusia.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Agama menyebut bahwa ekoteologi merupakan bentuk kerja sama harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga bumi adalah bagian dari praktik keberagamaan yang autentik.

Komitmen pemerintah terhadap gerakan ekoteologi juga tercermin dalam berbagai penghargaan nasional. Pada ajang Anugerah Penggerak Nusantara 2025, Menteri Agama memperoleh penghargaan kategori Harmoni dan Ekoteologi atas kontribusinya dalam mendorong gerakan keagamaan yang peduli lingkungan. Capaian tersebut turut diapresiasi oleh Prof. Abdurrohman Kasdi sebagai inspirasi bagi seluruh perguruan tinggi keagamaan di Indonesia.

Sinergitas Akademisi dan Pemangku Kebijakan

Keikutsertaan Prof. Abdurrohman Kasdi dalam P3N Lemhannas RI juga menunjukkan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan pengambil kebijakan strategis nasional. Selama pendidikan berlangsung, peserta tidak hanya menerima teori di ruang kelas, tetapi juga mengikuti Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN), diskusi kebijakan publik, simulasi kepemimpinan nasional, serta penyusunan naskah kebijakan strategis.

Dalam proses pendidikan tersebut, Prof. Abdurrohman Kasdi berhasil menyelesaikan sebanyak 19 naskah kebijakan selama mengikuti Diklat P3N Lemhannas RI. Seluruh karya tersebut menjadi bukti kapasitas intelektual dan komitmennya dalam merumuskan solusi strategis bagi berbagai persoalan kebangsaan.

Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily, dalam amanat penutupan P3N Angkatan XXVII menegaskan bahwa para alumni Lemhannas diharapkan mampu menjadi agen perubahan dan motor penggerak pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

“Kepedulian terhadap lingkungan hidup dan penguatan ketahanan nasional harus berjalan beriringan. Para alumni P3N Lemhannas diharapkan mampu menghadirkan solusi strategis bagi tantangan bangsa di masa depan,” ujarnya.

Bagi Prof. Dur, pengalaman mengikuti pendidikan di Lemhannas RI memberikan perspektif baru mengenai pentingnya kepemimpinan strategis yang berbasis nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Ia menilai bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif dan akademik, tetapi juga harus memiliki visi kebangsaan yang luas serta kemampuan membaca tantangan global secara komprehensif.

Menatap Masa Depan: Implementasi Ekoteologi di Tengah Krisis Iklim

Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, Indonesia memang menghadapi tantangan besar. Sebagai negara kepulauan dengan tingkat biodiversitas tinggi, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, gagal panen, kekeringan, banjir, hingga meningkatnya frekuensi bencana alam.

Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan jutaan korban jiwa secara global akibat bencana, penyakit, dan krisis pangan. Kondisi tersebut menjadikan isu lingkungan hidup sebagai salah satu agenda strategis dunia yang harus segera ditangani secara serius.

Dalam konteks itulah, pendekatan ekoteologi lintas agama yang dikembangkan Prof. Abdurrohman Kasdi dinilai memiliki relevansi besar. Pendekatan tersebut bukan hanya mendorong kesalehan individu dalam menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menjadi fondasi kebijakan publik yang lebih berkeadilan ekologis.

Sebagai alumni P3N Lemhannas RI, Prof. Dur kini resmi menjadi bagian dari jejaring pemimpin strategis nasional yang memiliki tanggung jawab moral dan intelektual dalam menjaga keutuhan bangsa. Ia berharap hasil kajian dan pengalaman selama mengikuti pendidikan di Lemhannas dapat menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

“Lemhannas mengajarkan pentingnya cara pandang yang utuh terhadap bangsa dan negara. Saya berharap kajian tentang ekoteologi ini dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah, tokoh agama, institusi pendidikan, dan masyarakat untuk bergerak bersama menjaga bumi. Merawat lingkungan adalah bagian dari merawat masa depan Indonesia,” pungkasnya.

 

Share this Post:

Galeri Photo